BPJS Ketenagakerjaan

446 views

BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan adalah program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial. Selain perlindungan akan risiko, BPJS Ketenagakerjaan juga memiliki program jaminan kesejahteraan bagi pensiun yang bisa diikuti pesertanya. Berbeda dengan Taspen yang khusus bagi ASN, BPJS Ketenagakerjaan bisa diikuti oleh siapa pun.

Program jaminan kesejahteraan bagi pensiun yang ada di BPJS Ketenagakerjaan yaitu, Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP). Program JHT dianggap sebagai tabungan atau investasi, sementara program JP merupakan penghasilan bulanan. Keduanya diterima sesudah karyawan memasuki usia pensiun, yang bertujuan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan/atau ahli warisnya dengan memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.

JAMINAN HARI TUA

  • Tujuan penyelenggaraan JHT adalah menjamin agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.

Peserta JHT

  • Pekerja penerima upah dan pekerja bukan penerima upah seperti pemberi kerja, pekerja mandiri, dan pekerja lepas.

Iuran JHT

  • Untuk pekerja formal atau penerima upah, iuran JHT sebesar 5,7% dari gaji per bulan. Pekerja tidak perlu membayar seluruh iuran secara penuh karena perusahaan wajib membayar sebanyak 3,7% dari gaji per bulan dan 2% sisanya dibayar secara pribadi. Sebagai contoh, Pak Ulet merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan dengan penghasilan sebesar Rp10 juta per bulan. Iuran JHT yang harus dibayarkan oleh Pak Ulet secara pribadi adalah 2% dari Rp10 juta yaitu sebesar Rp200 ribu dan perusahaan akan membayarkan 3,7% sisanya yaitu sebesar Rp370 ribu. Total iuran JHT Pak Ulet adalah sebesar Rp570 ribu per bulan.┬áSedangkan bagi pekerja informal atau pekerja lepas, iuran JHT yang dibayarkan sebesar 2% dari penghasilan per bulan. Sebagai contoh, Ibu Lincah adalah seorang blogger yang merupakan pekerja informaldengan penghasilan Rp10 juta per bulan. Maka iuran JHT yang harus dibayarkan Ibu Lincah sebesar Rp200 ribu tiap bulannya.

Manfaat JHT

  • Nilai akumulasi iuran per bulan ditambah dengan hasil pengembangan yang tercatat dalam rekening perorangan peserta. Selain itu, JHT dapat diambil sekaligus saat pekerja memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Untuk pencairan dana program JHT, uang hasil tabungan peserta JHT boleh digunakan untuk persiapan pensiun (maksimal 10 persen) dan uang perumahan (maksimal 30 persen).

JAMINAN PENSIUN

  • Tujuan penyelenggaraan Jaminan Pensiun untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan/atau ahli warisnya dengan memberikan penghasilan saat peserta memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.

Peserta Jaminan Pensiun

  • Hanya berlaku bagi pekerja penerima upah, selain penyelenggara negara. Cakupannya yaitu karyawan perusahaan maupun pekerja pada orang perseorangan. Jadi, individu bukan penerima upah tidak dapat mengikuti program ini.

Iuran Jaminan Pensiun

  • Iuran yang diwajibkan dalam Jaminan Pensiun adalah sebesar 3% dari upah yang dilaporkan dengan pembagian 2% ditanggung oleh pemberi kerja dan 1% ditanggung oleh pekerja.

Manfaat Jaminan Pensiun

  • Manfaat akan diterima peserta atau ahli waris setiap bulan secara berkala apabila memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Nilai maksimalnya dapat mencapai 40% dari upah peserta (yang memenuhi iuran minimum 15 tahun yang setara dengan 180 bulan). Besaran manfaat ditetapkan paling sedikit Rp300 ribu per bulan dan paling banyak Rp3,6 juta per bulan. Besaran tersebut berlaku untuk pembayaran pertama kali, karena setiap tahun besarannya bisa berubah disesuaikan dengan tingkat inflasi umum tahun sebelumnya.
Author: 
    author

    Related Post

    Leave a reply